Oleh: Irfan, Penasehat GWI
Penasehat Hukum: Ari Suwari, S.H., M.H.
PenaTrisula.Com: Jawa Timur, 10 Oktober 2026 – Di tengah samudra yang luas dan tak terduga, ada sosok yang berdiri tegak di haluan kapal. Ia adalah nahkoda. Di tangannya tergantung nasib semua orang yang menumpang kapal itu — dari kru yang bekerja keras hingga penumpang yang menaruh harapan besar agar selamat sampai tujuan. Ketika langit mulai gelap dan ombak bangkit mengamuk, siapa yang akan berdiri? Ia lah yang tak boleh mundur, sekalipun hatinya pun mungkin bergetar melihat dahsyatnya badai yang datang menghantam.
Namun, seringkali kebenaran baru terlihat jelas setelah badai berlalu. Saat nahkoda memutar haluan menantang ombak yang tinggi, bukan tanpa alasan ia melakukannya. Ia tahu, jika kapal tetap melaju lurus begitu saja, badai akan menghantam hingga kapal bisa terbalik atau hancur diterjang karang. Maka ia memilih jalan yang sulit — melawan arus, menahan goncangan, mengambil risiko yang bagi orang lain tampak sia-sia bahkan konyol. “Mengapa tidak menunggu saja?” tawa sebagian orang di atas kapal, merasa arah yang diambil sang nahkoda terasa jauh dan melelahkan. Ada yang mencibir, ada yang berbisik, ada yang menyalahkan setiap kali kapal berguncang hebat.
Tetapi sang nahkoda diam saja. Matanya tetap menatap ke depan, memegang kemudi dengan erat. Ia tahu apa yang tidak semua orang lihat — bahaya yang tersembunyi di balik permukaan air, arah angin yang berubah, dan kekuatan ombak yang bisa menghancurkan dalam sekejap. Ia dinilai aneh, dianggap berlebihan, bahkan dikatakan membuang tenaga. Padahal di setiap putaran kemudi itu, yang ada di benaknya hanyalah satu hal: menyelamatkan nyawa orang-orang yang dipercayakan kepadanya.
Begitulah juga di dunia kepemimpinan. Seorang pemimpin yang sungguh memikirkan kemaslahatan orang yang dipimpinnya, hampir tak pernah terlepas dari cacian, umpatan, dan ketidakpahaman. Ketika ia mengambil keputusan yang tidak populer namun benar di kemudian hari, ketika ia menahan keinginan sesaat demi kebaikan jangka panjang, ketika ia berani menempuh jalan yang sepi dan sulit demi melindungi “awak kapalnya” — seringkali justru di saat itulah suara-suara keberatan terdengar paling keras.
Orang sering lebih nyaman dengan hal-hal yang terlihat enak di permukaan, meskipun sebenarnya berbahaya di kemudian hari. Pemimpin yang menegur kesalahan, yang memperbaiki tatanan yang rusak, yang menolak jalan pintas yang merugikan — kerap kali dianggap menyusahkan. Ia dipandang terlalu kaku, terlalu lambat, atau bahkan dianggap tidak memahami keinginan rakyatnya. Padahal seperti nahkoda yang mengurangi kecepatan kapal di tengah badai agar tidak hancur dihantam ombak, keputusan pemimpin itu lah yang menjaga agar semua tetap utuh dan selamat.
Ada jarak antara yang terlihat dan yang dipahami. Bagi yang hanya melihat permukaan, perjuangan melawan arus memang tampak sia-sia. Namun bagi yang bertanggung jawab atas keselamatan jiwa-jiwa di bawah asuhannya, melawan ombak yang berbahaya adalah satu-satunya cara agar mereka semua bisa kembali mendarat di tepian dengan selamat. Cacian mungkin menghantam telinga, tetapi tujuan yang benar menjaga hati.
Sangat wajar jika orang belum memahami langkah-langkah seorang pemimpin pada saat itu juga. Waktu lah yang kelak akan menjadi saksi, bahwa setiap hal yang dilakukan dengan niat tulus untuk melindungi, meskipun saat itu dinilai konyol atau berlebihan, pada akhirnya akan terbukti menyelamatkan banyak nyawa dan harapan.
Maka kepada setiap nahkoda, kepada setiap pemimpin yang berani menempuh jalan kebenaran meski sepi — teruslah berdiri tegak. Ombak akan berlalu, badai akan mereda, dan saat kapal bersandar tenang di pelabuhan tujuan, mereka yang dulu mencibir akan menyadari: bahwa keteguhan hatimu itulah yang menjaga mereka tetap hidup.
[*]












