Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaNasionalTrisula News

SHIRATAL: Jalan yang Sering Dilupakan — Adab yang Dikalahkan Congkak

10
×

SHIRATAL: Jalan yang Sering Dilupakan — Adab yang Dikalahkan Congkak

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 08 23 at 16.07.01

Oleh: Irfan, Penasehat GWI.
Penasehat Hukum: Ari Suwari, S.H., M.H.

PenaTrisula.Com: Jawa timur, 23 Agustus 2026 – Setiap manusia memulai hidup sebagai pejalan kaki yang dibimbing langkahnya. Tidak ada satu pun orang yang bisa berjalan tegak, berbicara, mengenal dunia, hingga meraih kesuksesan sendirian. Di setiap titik perjalanan — dari langkah pertama di masa kecil, bimbingan orang tua, nasihat guru, dukungan rekan kerja, hingga bantuan orang-orang yang bahkan namanya tidak kita ketahui — kita semua berdiri di atas bahu dan ketulusan sesama. Inilah makna tersembunyi di balik kata Shiratal: sebuah perjalanan panjang di mana kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian, dan di ujungnya, kita semua akan kembali ke Sang Pemilik Jalan.

Sukses Bukan Sendirian: Setiap Langkah Berdiri di Atas Tangan Orang Lain

Seringkali, ketika seseorang berhasil meniti karir, meraih jabatan, mengumpulkan harta, atau diakui keberadaannya, ia mulai melupakan hal paling sederhana: tidak ada kesuksesan yang lahir dari kesendirian.

Kita mungkin sibuk memuji kerja keras, ketekunan, dan kemampuan diri sendiri. Tapi di balik setiap pencapaian, selalu ada orang yang menuntun: orang tua yang berdoa tanpa lelah, guru yang membimbing hingga kita paham, rekan yang membantu saat kita lemah, atasan yang memberi kesempatan, bawahan yang menyelesaikan tugas dengan setia, bahkan orang asing yang pernah memberi nasihat tepat waktu. Tanpa tuntunan, dukungan, dan bantuan dari sesama, sehebat apa pun potensi yang kita miliki, bisa saja tersesat di tengah jalan, terjatuh tanpa ada yang mengulurkan tangan, atau berjalan lama tanpa pernah tahu arah yang benar.

Kesuksesan sesungguhnya bukanlah kemenangan seorang diri, melainkan buah dari saling mengulurkan tangan, saling mengingatkan, dan saling menopang agar tidak tergelincir. Kita semua saling terhubung. Kita semua saling membutuhkan. Tidak ada satu orang pun yang cukup kuat berjalan sendirian menuju puncak.

Lupa Jalan yang Dititi: Saat Kita Melupakan Siapa yang Pernah Menuntun

Namun sayangnya, semakin tinggi seseorang melangkah, semakin jauh ia sering kali melupakan jalan yang pernah ia titi. Ia lupa bahwa dulu ia pernah tidak tahu apa-apa, lupa bahwa dulu ia pernah butuh bantuan, lupa bahwa dulu ada orang yang sabar menuntunnya hingga berdiri tegak.

Ketika kesuksesan sudah di tangan, jabatan sudah diraih, dan pengakuan sudah didapat, banyak orang perlahan menganggap: “Ini semua hasil kerja kerasku sendiri. Aku yang berjuang, aku yang pantas menerima.” Ia mulai menutup mata terhadap orang-orang yang pernah membantunya, menutup telinga terhadap nasihat, dan merasa tidak lagi membutuhkan siapa pun. Ia lupa bahwa jalan yang ia lalui hari ini pernah diratakan oleh orang lain, dan pijakan yang ia injak pernah diperkokoh oleh bantuan sesamanya.

IKLAN PENATRISULAMelupakan jalan yang dititi sama artinya melupakan kewajiban untuk tetap rendah hati. Karena setinggi apa pun kita berdiri, kita tetaplah manusia yang butuh dituntun, dibimbing, dan diingatkan — hari ini, besok, dan selamanya.

Adab Tergerus, Congkak Menguasai: Saat Kita Merasa Tidak Butuh Orang Lain

Ketika lupa akan asal-usul dan lupa akan bantuan yang pernah diterima, adab pun mulai runtuh. Adab bukan sekadar sopan santun berbicara, melainkan kesadaran mendalam bahwa kita tidak lebih tinggi dari siapa pun, bahwa setiap orang memiliki peran dalam hidup kita, dan bahwa kita semua saling membutuhkan.

Orang yang melupakan tuntunan sesamanya perlahan kehilangan rasa hormat. Ia mulai menegur dengan kasar, memandang rendah mereka yang berada di bawahnya, merasa tidak perlu berterima kasih, dan menganggap bantuan orang lain sebagai hal yang wajar dan sudah seharusnya. Rasa syukur menipis, digantikan oleh rasa merasa paling pantas, paling hebat, dan paling berhak atas segalanya.

Di sinilah rasa congkak mulai mengambil alih. Congkak muncul ketika kita merasa sudah tidak butuh dituntun lagi, merasa sudah lebih tahu dari siapa pun, dan merasa kesuksesan adalah milik pribadi semata. Padahal, semakin kita merasa tidak membutuhkan orang lain, semakin kita menunjukkan bahwa kita mulai tersesat dari jalan yang benar. Adab yang seharusnya menjadi penuntun langkah akhirnya kalah telak oleh kesombongan yang tumbuh bersama kesuksesan yang salah dipahami.

Shiratal: Mengingat Selamanya Bahwa Kita Berjalan Berkat Bantuan Orang Lain

Makna Shiratal adalah pengingat seumur hidup: selama kita masih berjalan di dunia ini, kita tidak pernah berjalan sendirian. Dan selama kita belum kembali kepada-Nya, kita tetap membutuhkan tuntunan, nasihat, dan bantuan dari sesama — entah itu orang yang lebih tua, lebih berpengalaman, rekan sejawat, atau bahkan orang yang lebih muda yang memiliki kebenaran untuk kita dengar.

Seseorang yang benar-benar sukses adalah orang yang semakin tinggi kedudukannya, semakin sadar bahwa ia berdiri di atas dukungan banyak orang. Ia tidak menjadi sombong, melainkan semakin penuh rasa syukur. Ia tidak menutup diri dari nasihat, melainkan semakin terbuka menerima petunjuk. Ia tahu bahwa keberhasilannya bukan miliknya sendiri, melainkan amanah yang dipercayakan — berkat bimbingan orang-orang di sekitarnya, dan berkat izin Sang Pemilik Jalan.

Jangan pernah biarkan kesuksesan membuatmu lupa dari mana kamu datang, dan siapa yang pernah menuntun langkahmu. Jangan biarkan jabatan membuatmu merasa tidak butuh orang lain, dan jangan biarkan rasa congkak memadamkan cahaya adab di hatimu. Karena sehebat apa pun langkah yang telah kau tempuh, setinggi apa pun puncak yang telah kau raih, pada akhirnya — kita semua adalah pejalan kaki yang saling menuntun, dan kita semua akan kembali ke Satu Tempat yang Sama.

“Kesuksesan yang sesungguhnya bukanlah seberapa tinggi kau berdiri, melainkan seberapa rendah hatimu tetap berada, sambil tetap ingat: kau tidak pernah naik ke atas sendirian — banyak tangan yang pernah menuntunmu, dan banyak doa yang pernah mengangkatmu hingga ke sini.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *